ujung lorong itu tidak berubah sejak sembilan tahun lalu kutinggal pergi. masih gelap dan lembab.
aku tidak
berniat mampir. kebetulan saja lewat dan teringat sesuatu.
aku meraba
tembok kusam penuh lumut dengan cat tembok yang mulai mengelupas dan coretan
asal dari cat semprot murah berwarna hijau terang.
badai sudah
selesai dari satu jam lalu tapi rintik air masih intens turun dari langit. seperti
air seni laki-laki, kau pikir sudah habis tapi sialnya masih tersisa sedikit.
proses alamiah yang tidak bisa ditebak.
aku bersandar di dinding yang kupikir tidak terlalu kotor. kuambil kertas papir dari kantong belakang celanaku dan sebungkus tembakau dengan aroma jambu air dari kantong kemejaku.
sejumput besar tembakau kuratakan di atas kertas papir ukuran besar. sengaja kubuat dengan takaran jumbo karena aku malas membuat beberapa linting kecil. dan lagipula melinting manual bukan perkara mudah. perlu kemampuan khusus untuk menggulung tembakau dengan tingkat kepadatan yang sempurna dan ukuran besar ke kecil yang sesuai.
lima menit
aku kerepotan, akhirnya gulungan rokokku selesai, kunyalakan lintingan terbaik
yang aku bisa dari korek api kayu yang sebelumnya aku kocok dulu untuk
memastikan apakah isinya masih ada.
aroma jambu
air yang tidak terlalu kuat dipaksa kalah oleh aroma melati dan cengkeh yang tercampur
apik dalam racikan tembakau yang aku dapat dari kawanku setelah ia pulang
pelesir ke ujung timur pulau jawa.
embusan asap mengepul tebal di ujung lorong tengah malam bulan februari. Ingatan makin jelas dan semakin kuat. aku harus pulang cepat.
jatuh sendiri, ke rumah sakit sendiri. sungguhlah anak yang mandiri
jatuh dari motor untuk yang ke sekian
kalinya. Berkesan sekali karena jatuhnya tepat di hari ulang tahun saya. jatuh
kali ini souvenirnya robek di ujung alis dan di bawah hidung. lumayan bikin
pertanyaan di kantor karena selama dua minggu muka saya penuh perban. (motornya
gimana?! gapapa?!) tenang aja. dia lebih kuat dari pada saya. lecet dikit, santai.
FEBRUARI
mengutarakan sesuatu pada seseorang yang
efeknya ternyata berlarut-larut sepajang tahun. sialan. tapi diselamatkan
dengan mengikuti proyek #seninmenuliskebaikan yang digagas oleh theoresia
rumthe dan weslly johannes. sepanjang bulan menulis kebaikan rasanya menenangkan.
MARET
foto standar pelancong amatiran.
achievement unlocked 1: naik pesawat.
achievement unlocked 2: pergi ke luar
negeri.
dimandatkan kantor untuk dinas ke bangkok
selama enam bulan. sekali-kalinya pergi jauh dari rumah, jauhnya banget-bangetan.
dapet banyak pengalaman baru, kesempatan mengembangkan diri, belajar banyak hal
terutama belajar jadi minoritas dan akhirnya jadi semakin menghargai perbedaan.
APRIL
bangkok, be nice.
berhasil menghapal cara mengucapkan angka
satu sampai sepuluh dalam bahasa thailand, serta sedikit kalimat percakapan
singkat. sebuah ilmu yang jarang sekali dipraktekkan karena ternyata susah
sekali mengerti percakapan mereka. setiap ngelempar kalimat, selalu panik
karena ga bisa balesnya.
MEI
nyari takjil sampe thailand.
sudah dibaptis, berikut adalah nama thailand saya: อจิ คุซมาร์โตโน่. kalau kata google translate cara bacanya itu: Xci khu smār to nò. aneh banget.
di bulan ini mendapatkan pengalaman baru
lagi dalam hidup. puasa di luar indonesia dan jauh dari rumah. (berat ga?) ngga
sih, biasa aja. udah biasa laper soalnya, ehehe. lagi pula orang-orang di bangkok
cukup suportif kok, seperti nanyain “lu udah boleh makan belum?” setiap jam. dan
berbagai pertanyaan akidah yang selalu saya jawab dengan “lu gugling aja dah
mendingan.”dan karena saya juga ga minta mereka untuk ga makan di depan saya,
ya mereka cuek-cuek aja seliweran makan minum di depan muka saya. lumayan
nambah saldo pahala.
terus sempat mampir ke kedutaan Indonesia di
bangkok untuk menghadiri acara buka puasa bersama yang artinya ALHAMDULILLAH
NEMU KOLAK SAMA GORENGAN!
JUNI
video call sama orang rumah. duh, LDR berat ternyata.
lebaran pertama di luar negeri, sendirian,
seperti serigala yang terpisah dari rombongannya dan menemukan tumpukan daging rusa
di tengah jalan, saya liar sekali makan segala macam makanan Indonesia yang
disediakan pihak kedutaan. ya, maklumin saja, setiap hari buka puasanya pakai telur-ayam-telur-ayam
saja. sekalinya ketemu rendang dan opor jadi kalap.
durasi lebaran di bangkok cukup singkat,
sholat jam delapan, makan-makan sampai jam dua belas siang, terus udah pada
bubar aja gitu, termasuk saya, ehehehe.
JULI
ID card yang desainnya ga ganti-ganti dari 4 tahun lalu.
pulang sebentar ke indonesia untuk mengurus
ini dan itu sekalian menghadiri acara tahunan hammersonic yang sudah empat tahun
belakangan saya ikut terlibat di keriuhan belakang panggungnya. tadinya ga
dijadwalin untuk pulang, tapi ternyata karena satu dan lain hal, maka dadakan
disuruh pulang dulu. YAUDAH SEKALIAN AJA, hehehe.
paling tidak sudah turut serta dalam
pagelaran tiap tahun meskipun tahun ini saya ga dapet tugas seperti tahun lalu
karena ga ikut briefing dan ngasih tahunya dadakan, jadinya saya ditempatkan
untuk ngurusin segala rupa. tapi santai aja.
AGUSTUS
memantai.
setelah beberapa bulan di bangkok setiap
weekend hanya diisi dengan pergi naik kereta udara dan kereta bawah tanah untuk
mengunjungi beberapa pasar malam yang terkenal seperti chatuchak, rod fai
(train market), JJ Green, sama apa lagi ya? lupa. akhirnya saya ke luar kota
juga, pergi ke hua hin dalam rangka mau main ke pantai. ya, paling ngga kalau
saya ditanya udah ke mana aja, saya bisa bilang tempat lain selain kantor dan
pasar malam.
lalu mengurus izin kerja di kantor imigrasi
thailand dan dihadiahi izin kerja sampai 2020! waduuuuh, dari enam bulan kenapa
jadi empat tahun??!!
SEPTEMBER
kelar nonton konser, ngobrol sambil ngebir. ini dia, nih.
bertemu seseorang, yang cara ketemunya termasuk
dalam daftar pertemuan ideal menurut saya. di konser musik, sendiri, tahu nama
band yang kaosnya sedang saya pakai, obrolannya nyambung, cuek. idaman sekali
bukan? namun sayang, biasanya yang saya idamkan itu tidak mengidamkan saya,
jadi ya sudahlah.
OKTOBER
bangkok team.
akhirnya pulang juga ke indonesia. kali ini
for good, tugas di bangkok sudah rampung, sudah tidak ada hutang lagi.
hutangnya pindah ke sini, dikasih tanggung jawab baru, kesibukan baru, dan jadwal
meeting tambahan setiap harinya, ehehehe.
NOVEMBER
saying good bye is somehow easy, you know.
bulan yang berat, terutama soal pekerjaan. well,
from a great power comes great responsibilities. sepertinya sih memang benar
seperti itu ya. makin sibuk, makin berkurang merokoknya, makin berkurang jatah tidur
siang colongannya.
tapi bulan ini juga jadi titik tolak sesuatu. sesuatu yang harus diubah. segera.
DESEMBER
percayalah.
mengambil keputusan terpenting 2018 di akhir tahun. semoga apa yang sudah diputuskan menjadi hal baik di kemudian hari.
ya, kira-kira begitulah rangkuman hidup saya selama 2018. ini juga merupakan tulisan penutup proyek ambisius saya yang akhirnya bisa diselesaikan tepat waktu juga meskipun sering tersendat. satu tulisan sehari selama satu tahun. LUNAS!
terima kasih untuk semua yang sudah repot-repot membaca tulisan saya ini. dan terima kasih juga untuk kamu yang sudah banyak menjadi inspirasi tulisan saya sepanjang tahun. terima kasih untuk isi kepala saya yang rela diperas setiap malam memikirkan apa-apa saja yang harus ditulis.
kami mengundang kenangan manis; keinginan
yang terlupa; harapan yang disia-siakan; impian yang tidak diusahakan; cerita
pahit tengah malam; obrolan mabuk dini hari; janji yang berulang kali diingkari;
pesan yang diabaikan; rindu yang tidak tersampaikan, dan satu tamu istimewa; resolusi
yang dicampakkan.
jalan yang tak pernah terlihat sebelumnya perlahan menampakkan sedikit bentuknya. aku bangkit dari dudukku dan mempertegas jejak langkah yang samar-samar terlihat di ujungnya. sedikit bergegas aku menghampirinya.
kabut tebal mulai menipis saat aku
melangkah, semuanya semakin jelas meski masih agak kabur. aku beranikan untuk makin
maju. langkah demi langkah, jalan semakin bergelombang, batu kerikil semakin
tajam, kabut mulai datang lagi.
aku berhenti sejenak, mencoba menarik napas
namun udara semakin tipis. keringat mulai mengucur dari keningku. bibirku mulai
kelu. lututku mulai lunglai.
aku kembali terjatuh di tengah perjalanan.
seseorang memapahku berdiri, tak bisa
kulihat wajahnya, penglihatanku kabur, semua buram. ia membawaku ke tepian
jalan, merebahkan tubuhku di bangku besi panjang. punggungku terasa dingin,
terlalu menusuk.
ia membisikkan sesuatu ke telingaku;
“istirahat dulu, kamu masih belum siap untuk
perjalanan ini.”