Category: mis·cel·la·ne·ous

1 : consisting of diverse things or members : heterogeneous.
2a : having various traits.
2b : dealing with or interested in diverse subjects as a writer

  • Dihajar Rindu

    sekeras apapun ia mencoba menghindar, pukulan dan tendangan tak bisa ia elakkan. rahangnya mulai goyah, badannya mulai payah, lulutnya mulai lemah, dan wajahnya sudah penuh darah.

    napasnya tak beraturan, tersengal-sengal dengan tarikan pendek di setiap hirupannya. paru-parunya sudah tak lagi mampu menampung debu yang terhirup bersama bau anyir yang menyesakkan.

    jantungnya sudah melemah, denyut nadinya lambat laun memudar, pandangan matanya makin kabur, telinganya berdenging, dan giginya gemeretak menahan nyeri.

    ia tak pernah tahu dihajar rindu sedemikian menyakitkannya.

     

    (287/365)

     

     

     

  • Always Never

    i always preparing myself for conversations that probably never happen with someone i’ll probably never talk to.

     

    (286/365)

     

     

     

  • Sebuah Percakapan (06)

    “cuy, susah banget ini.”

    “ngeluh mulu, lu.”

    “bukan gituuu.”

    “gini, gini. gua kasih tau. lu itu kaya gini udah berapa lama, sih? jangan kaya anak baru gitu, lah. kemaren-kemaren juga biasa aja. kenapa sekarang ngeluh.”

    “ga ngeluuuh.”

    “terus apa namanya?”

    “ya pengen ngomong capek aja.”

    “istirahat kalo capek, ga usah kebanyakan ngomong. lu pikir ngomong doang bisa nyelesaiin masalah?”

    “ehehe.”

    “cengengesan aja, lu.”

    “eh, tapi. menurut lu gimana?”

    “apanya?”

    “ya, itu tadi. kan susah nih, udah capek juga. mau istirahat bingung gimana caranya. kepikiran terus.”

    “pikirin hal yang lain kan bisa. emang masalah lu itu doang?”

    “banyak, sih.”

    “nah, ya udah pilih satu atau beberapa yang harus lu pikirin, lu kerjain, pokoknya apapun yang bikin lu sibuk dan lupa, lah.”

    “ada beberapa, sih.”

    “udah, ah. lu tuh udah tau musti ngapain. lu cuma perlu ada orang yang maksain ini aja.”

    “elu yak?”

    “gua mah ga perlu maksa lu. bodo amat.”

    “yeee, bantuin kali.”

    “nih, baca buku yang banyak, kerjain kerjaan lu dengan bener, bikin project, jalan ke tempat baru, ketemu orang baru, lakuin hal-hal baru. banyak lah yang bisa lu kerjain. tinggal elunya, mau ngerjain apa ngga.”

    “hmmm. mau lah.”

    “nah, ya udah, bagi rokok sini.”

     

    (285/365)

     

     

     

     

     

     

  • Sudahlah

    ada baiknya keinginanmu yang tak seberapa itu diredam dulu mengingat beberapa kali kamu sendiri selalu kecewa dengan hasil yang didapatkan. tahan saja dulu. tahan, tahan, tahan, sampai lama-lama hilang. tapi kalau makin kuat? ya tidak apa-apa, berarti kamu harus menahan lebih lama lagi.

     

    lagi pula bukannya kamu lebih senang seperti ini ya? memelihara perasaan tak berbalas. karena jika berbalas pun kamu bingung sendiri. apa yang akan kamu lakukan setelah itu? kamu tidak pernah punya persiapan apa-apa.

     

    sudahlah, masih banyak hal lain yang bisa kamu pikirkan, tidak melulu soal itu.

     

    (284/365)

  • Let’s Call It A Night

    there is a small cat

    with brown fur and collar neck

    yellow shining eyes

     

    walking toward me

    silly walk and funny voice

    snugging on my feet

     

    i give my crackers

    beef flavoured sugar coating

    it feels good to share

     

    my last cigarette

    i throw it to the ashtray

    let’s call it a night

     

    (283/365)