Category: Fiksi

  • Dia Selalu Duduk di Tempat yang Sama

    Dia Selalu Duduk di Tempat yang Sama

    Ada seorang pria yang selalu duduk di meja dekat jendela di sebuah kedai kopi yang cukup sering aku sambangi. Aku tidak tahu namanya, aku tidak tahu pekerjaannya, aku bahkan tidak yakin apakah aku pernah mendengar suaranya. Tapi selama beberapa waktu terakhir, keberadaannya menjadi sesuatu yang (anehnya) akrab. Setiap kali aku datang, hampir selalu ia sudah ada di sana lebih dulu. Kopi hitam di sebelah komputer jinjingnya. Sesekali mengetik, lalu memandangi jalanan di luar jendela dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Aku pikir itu tatapan orang yang sedang menunggu seseorang, tapi juga terlihat seperti tatapan orang yang sedang kehilangan sesuatu, atau mungkin lebih mirip tatapan orang yang terlalu lama hidup dalam pikirannya sendiri.

    Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Sama seperti kita yang tidak terlalu memperhatikan tiang listrik atau pohon di dekat rumah yang setiap hari kita lewati dalam perjalanan menuju kantor. Kita menganggap benda-benda itu akan selalu ada. Dan kehadiran yang terlalu konsisten sering kali berubah menjadi latar belakang. Hingga suatu hari latar belakang itu hilang, dan kita baru sadar betapa besar ruang yang diam-diam mereka tempati dalam hidup kita.

    Aku mulai menyadari bahwa keberadaan pria itu bukan semata-mata karena rasa penasaran, tapi karena pengulangan. Mungkin memang begitu cara manusia membangun kedekatan. Kita biasa membangun relasi melalui percakapan panjang atau pengalaman emosional mendalam yang kita bagikan dengan suka rela, tapi ada hal lain yang tidak sempat kita perhatikan, yaitu relasi yang terbangun melalui kebiasaan melihat dan merasakan sesuatu berulang kali. Kita bisa merasa dekat dengan suara kereta yang lewat setiap sore, kita bisa merasa dekat dengan penjaga parkir yang hampir tidak pernah kita ajak bicara (biasanya hanya sekadar sapaan), atau kita bisa merasa dekat dengan wajah seseorang yang selalu muncul di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Kedekatan kadang lahir dari rutinitas, bukan dari hubungan.

    Karena terlalu sering melihat pria itu, aku mulai mengarang cerita-cerita kecil tentang hidupnya yang tidak pernah aku ketahui dengan pasti. Mungkin, dia adalah seorang penulis yang sedang berusaha menyelesaikan novelnya yang tidak kunjung selesai sejak berbulan-bulan lalu. Mungkin juga dia adalah seorang pekerja lepas yang lebih nyaman bekerja di tengah suara mesin espresso dibanding di kamarnya yang sunyi. Atau mungkin saja dia baru kehilangan seseorang? Mungkin dia sedang jatuh cinta? Atau mungkin bahkan tidak ada cerita menarik sama sekali dalam hidupnya? Mungkin saja dia hanya menyukai posisi meja dekat jendela karena pencahayaannya yang bagus dan colokan listriknya dekat.

    Hari-hari terus berlalu dan pria itu tetap menjadi bagian dari pemandangan di saat aku mengunjungi kedai kopi. Aku mulai menganggapnya sebagai elemen tetap dalam ruangan tersebut. Sama seperti aroma kopi yang selalu menempel di udara, lagu-lagu jazz yang diputar pelan, dan barista yang wajahnya lebih sering kulihat daripada beberapa teman dekatku. Aku tidak pernah benar-benar memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari pria ia tidak akan ada lagi di sana. Mungkin karena sebagian dari kita percaya bahwa apa yang terus-menerus hadir akan terus hadir selamanya. Padahal hampir semua kehilangan justru datang dari asumsi semacam itu. Hidup memang mengecewakan.

    Lalu pada suatu Selasa yang biasa saja, kursi itu kosong.

    Tidak ada yang istimewa pada hari itu. Tidak ada hujan deras, tidak ada firasat buruk, tidak ada adegan dramatis seperti dalam film. Hanya sebuah kursi kosong di meja dekat jendela. Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya. Setiap orang punya urusan. Bisa jadi sakit, atau ingin berlibur, atau mungkin aku dan dia ada di waktu yang tidak tepat. Tapi keesokan harinya kursi itu masih kosong. Hari berikutnya juga. Seminggu kemudian tetap kosong. Sebulan kemudian aku mulai sadar bahwa mungkin aku tidak akan melihat pria itu lagi.

    Aneh sekali bagaimana seseorang yang tidak pernah menjadi bagian dari hidupmu bisa meninggalkan rasa kehilangan. Aku tidak kehilangan teman, tidak juga kehilangan keluarga. Bahkan aku tidak kehilangan seseorang yang pernah mengenalku. Yang hilang hanyalah seorang pria yang kebetulan selalu duduk di tempat yang sama dan aku selalu melihatnya. Namun justru karena itu aku mulai memahami sesuatu yang selama ini luput kusadari: hidup kita ternyata dibangun oleh begitu banyak orang asing.

    Kita sering menganggap kehidupan kita hanya terdiri dari orang-orang yang namanya tersimpan di kontak telepon, yang fotonya muncul di media sosial, atau yang hadir dalam momen-momen penting. Padahal sebagian besar hari-hari kita justru ditemani oleh orang-orang yang tidak pernah kita kenal. Kasir minimarket yang selalu menyapamu setiap pagi. Petugas keamanan yang mengangguk ketika kamu masuk gedung. Penjual kopi di sudut jalan. Penumpang kereta yang hampir selalu duduk di gerbong yang sama. Mereka semua tidak pernah masuk ke dalam cerita utama hidup kita, tetapi tanpa sadar mereka membantu membentuk rasa familiar yang membuat dunia terasa lebih stabil.

    Ketika salah satu dari mereka menghilang, dunia kita memang tidak runtuh. Dunia kita tidak berubah secara signifikan. Kedai kopi itu tetap buka, baristanya masih tetap bekerja. Mesin kopinya masih tetap berbunyi. Pengunjung masih tetap tertawa dan bercengkerama seperti biasa. Tapi aku merasa ada sesuatu yang sedikit bergeser. Seperti nada yang sumbang dalam lagu yang sudah terlalu sering kita dengar. Mungkin tidak semua orang menyadarinya, tetapi kita yang terbiasa dengan pola itu akan langsung merasakan ada yang tidak pada tempatnya.

    Sejak saat itu aku mulai berpikir bahwa mungkin sebagian besar kehilangan dalam hidup tidak datang dalam bentuk tragedi besar. Sebagian besar kehilangan datang dengan cara yang jauh lebih sunyi. Seseorang hanya berhenti muncul tanpa penjelasan. Tidak ada perpisahan di sana. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dan pesan-pesan baik. Mereka hanya menghilang dari rutinitas kita, dan dunia akan mengharapkan kita untuk melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

    Mungkin suatu hari nanti, aku juga akan menjadi orang asing yang menghilang dari rutinitas orang lain. Seseorang yang selalu duduk di meja tertentu. Seseorang yang selalu memesan minuman yang sama. Seseorang yang wajahnya dikenali tetapi namanya tidak pernah diketahui. Lalu suatu hari aku berhenti datang, dan mungkin ada seseorang yang melirik ke arah kursi kosong yang kutinggalkan dan berpikir, hanya untuk beberapa detik, “Ke mana orang itu pergi?”

    Setelah itu mereka akan kembali membuka laptopnya, menyeruput kopinya, dan melanjutkan hari seperti biasa. Sama seperti yang kulakukan sekarang. Karena mungkin begitulah cara dunia bergerak.

    Foto oleh Dave Michuda di Unsplash

  • Lain Kali Aku Harap Waktu Bisa Berjalan Lebih Lambat

    Lain Kali Aku Harap Waktu Bisa Berjalan Lebih Lambat

    hari itu jatuh pada tanggal yang sudah aku beri tanda lingkaran merah sejak tiga puluh hari yang lalu.

    kamu sudah bersiap sejak pagi, bahkan sebelum bunyi alarm pertama yang biasanya sangat mengganggumu. rambutmu sudah disisir rapi, bibirmu berkelir merah bata, dan wangi parfum favoritmu sudah menyatu dengan kulit.

    hari ini kami akan bertemu. satu-satunya hari dalam sebulan di mana segalanya terasa benar.

    kami memang tidak tinggal di dua kota yang berbeda, apalagi negara. tapi waktu, pekerjaan, dan rutinitas membentangkan jurang yang lebih lebar dari jarak kilometer dan hitungan menit. pekerjaan shift malamku di pabrik baja ringan, dan pekerjaanmu di salah satu toko dalam pusat perbelanjaan di siang hari, penuh kegiatan dan jadwal yang kurang manusiawi. dan setiap hari minggu terakhir di bulan itu adalah satu-satunya hari libur yang bisa kami sepakati: satu hari untuk jadi manusia yang saling mencintai, bukan cuma sekadar nama dalam layar ponsel saja.

    ini adalah jadwal kegiatan kami hari ini yang sudah aku susun sejak minggu lalu:

    08.00: jemput kamu (bawa helm dua)

    09.00: sarapan (kalau sempat)

    11.00: jalan kaki di taman kota (jangan lupa bawa kamera polaroid pinjaman dari Rudi)

    13.00: nonton film di bioskop (biar dia yang pilih)

    16.00: makan sore di warung padang dekat stasiun (kali ini boleh dua lauk)

    18.00: duduk di atap gedung parkir, lihat langit senja (kalau tidak hujan)

    20.00: mengantar kamu pulang.

    namun dari awal, waktu tidak berpihak.

    jam 07.30, motorku mogok.

    aku coba mendorong ke bengkel terdekat, tapi semua masih tutup. terpaksa aku naik ojek online dengan helm yang sempit, tanganku memeluk kotak kecil berisi kejutan: buku puisi yang aku buat semalaman.

    kamu sudah menunggu di depan rumah, berdiri sabar seperti patung hachiko, tapi matamu terlihat berkedip-kedip cemas.

    “kamu telat 45 menit,” katanya singkat.

    “maaf, motorku mogok. tapi lihat ini.” aku berikan senyum terbaik sambil mengangkat kotak berisi buku puisi. kamu mencoba membalas senyum itu, tapi matamu sudah terlanjur kecewa.

    di kafe (ini agenda impromptu), pesanan kami datang salah. kopi susu favoritmu ternyata lebih menyerupai sirup karena terlalu manis. musik yang diputar bukan lagu tahun 2000-an, tapi remix jedag-jedug keras yang mengusir nostalgia. entah siapa music director hari itu, tapi ia layak untuk pindah tugas saja.

    sampai di taman, ternyata baterai polaroid habis. kami akhirnya hanya duduk sambil mengomentari pasangan lain yang lewat, tapi kamu sepertinya kurang begitu tertarik ikut serta dalam kegiatan tersebut.

    “harusnya kita bisa lebih bahagia dari mereka.” bisik kamu.

    “maaf. aku pikir aku sudah mengatur semuanya dengan baik.”

    “bukan salahmu. cuma… waktu cepat sekali hari ini.”

    di bioskop, filmnya batal tayang karena gangguan listrik. kami keluar dengan tiket yang ditukar popcorn. lumayan.

    di dekat warung masakan padang, hujan turun deras. kami terjebak di pinggir toko elektronik, kamu memeluk erat lenganku, tapi tanganku terlalu gemetar karena frustrasi sehingga tidak bisa merasakan hangatnya.

    semua rencana yang sudah diatur rapi sekarang hancur sudah.

    menjelang senja, kami duduk di bawah halte tua, bukan di atas gedung parkir. langitnya abu-abu, senjanya hanya pantulan samar di genangan air.

    “maaf hari ini berantakan.” kataku lirih.

    kamu menoleh. mataku sudah merah, tapi menahan air mata seperti pria yang tak mau terlihat lemah.

    “yang berantakan bukan harinya,” jawabmu pelan. “yang berantakan adalah harapanku soal waktu.”

    aku menatapnya.

    “setiap tanggal 18, aku berharap waktu mau lebih lambat. tapi waktu tetap jahat. ia lewat begitu saja, tak peduli kita rindu setengah mati.”

    kamu menggenggam tanganku erat.

    “kalau begitu, lain kali aku akan minta waktu duduk sebentar. setidaknya sampai kita selesai berkata rindu dengan benar.”

    kamu tersenyum kecil.

    rencana kami memang hancur, tapi kenyataan tetap terasa hangat. bukan karena kekacauannya menyenangkan, tapi karena kami bisa ada sejenak di hari yang sama, dalam waktu yang sama, saling memilih satu sama lain, meski dunia terus berlari.

    dan sebelum waktu pergi, kamu berkata lirih:

    “lain kali… aku harap waktu bisa berjalan lebih lambat.”

  • Bar Semalam

    Bar Semalam

    seorang perempuan duduk sendirian di bar. sepertinya ia baru pulang kerja dilihat dari pakaiannya yang cukup formal. entahlah, mungkin dia baru selesai menghadapi rapat yang cukup bikin penat. terlihat dari kepalanya yang menunduk di hadapan gelas kosong di depannya. seorang pria datang menghampirinya dengan tenang dari arah pintu masuk. pria itu melemparkan pandang ke arah bartender diiringi dengan anggukan kepala yang menandakan rasa hormat.

    ia mengambil duduk persis di sebelah kiri sang perempuan. tidak memberi jarak satu bangku pun. gerakannya teramat yakin bahwa sang perempuan tidak akan terganggu dengan kehadirannya. sang perempuan masih melihat gelas dengan tatapan yang sulit ditebak. antara ia baru saja melewati hari yang berat, atau memang itu raut muka yang biasanya ia gunakan sehari-hari.

    sang pria berkata pada bartender “segelas besar wiski dan air soda. aku mau memulai malam ini dengan tenang.” sang bartender hanya mengangguk dan dengan cekatan menyiapkan gelas dan sibuk mengambil botol-botol di rak belakang.

    “hai, gelasmu sudah kosong. boleh kubelikan satu gelas minuman lagi? sepertinya kamu butuh seseorang untuk mendengarkan ceritamu. atau tidak? bukan masalah, akan tetap kupesankan minuman dan kita bisa bersama-sama diam semalaman.”

    sang pria berkata pada sang perempuan yang kemudian menoleh lembut ke arahnya.

    “hai, terima kasih sudah menawarkan minuman. tapi aku hanya mau minuman mahal malam ini. apakah penawarannya masih berlaku?” sang perempuan menyambut percakapan dengan intonasi yang menyiratkan rasa percaya diri tinggi.

    “mari kita lihat apa pilihanmu malam ini dan aku akan mencocokkanya dengan isi rekeningku. kalau itu tidak membuatku bangkrut, aku akan biarkan bartender menyediakannya untukmu.” sahut sang pria dengan percaya diri yang sama tingginya namun cukup realistis.

    sang perempuan tersenyum tipis, menyambut tantangan dengan hati-hati. “aku akan bermurah hati kali ini. segelas margarita kurasa tidak akan terlalu menguras isi rekeningmu. bagaimana?”

    “uuugh, sejujurnya segelas margarita itu artinya aku harus puasa tiga hari ke depan. tapi tidak apa-apa, aku rasa mungkin ini pertanda bahwa aku juga harus mulai kembali berolahraga.”

    bartender datang membawa pesanan wiski soda. “wiski soda untuk tuan abraham.” ia mempersilakan gelas untuk segera disesap sang pria.

    “terima kasih. tolong buatkan margarita untuk nona yang sepertinya butuh lebih banyak asupan alkohol untuk meringankan bebannya.” tuan abraham memberi instruksi pada bartender.

    “segera, tuan.” sahut bartender. “malam ini akan baik-baik saja, nona sarah. anda ada di samping pria yang tepat.” sang bartender berkata sambil mengambil gelas kosong di depan nona sarah.

    “jadi,” kata sarah sambil mengamati gelas margarita yang kini sudah ada di hadapannya, “apa kamu selalu datang ke bar sepulang kerja dan menawarkan minuman pada perempuan yang kelihatan setengah hancur seperti aku?”

    abraham mengangkat bahu santai. “kadang. tergantung ekspresi wajahnya. kalau terlihat seperti seseorang yang baru saja memenangkan argumen di rapat tapi kalah dalam hidup… ya, aku rasa dia layak ditemani.”

    sarah terkekeh pelan. “bagus. karena hari ini aku kalah dalam dua-duanya.”

    “oh? siapa musuhmu kali ini?”

    “waktu. dan harapan.”

    abraham mengangguk pelan, lalu menyeruput wiski sodanya. “klasik. dua lawan abadi umat manusia. kamu hampir menang?”

    “aku tidak tahu. aku bahkan tak tahu kenapa masih berusaha menang.”

    abraham menoleh ke arah sarah. “karena kamu keras kepala. dan keras kepala itu romantis.”

    sarah tersenyum tipis, matanya masih mengarah ke gelasnya. “romantis itu melelahkan.”

    “begitu juga dengan hidup. tapi kamu tetap melakukannya, kan?”

    “tergantung harinya. hari ini aku hanya ingin menghilang sebentar. menjadi tidak penting. menjadi bayangan yang duduk diam tanpa suara.”

    abraham menyandarkan punggung ke kursi bar, menatap ke langit-langit seolah mencari kata-kata. “kalau begitu, anggap aku seperti dinding. kamu bisa bicara, atau hanya bersandar. aku tidak akan jatuh.”

    sarah tertawa kecil. “kamu punya kalimat-kalimat aneh yang entah kenapa cocok untuk momen-momen seperti ini.”

    “karena aku punya catatan kecil di dompet. berisi kalimat-kalimat yang bisa kupakai saat duduk di sebelah perempuan misterius di bar.”

    “benar begitu?”

    “tidak juga. sejujurnya aku lebih sering duduk diam dan mengarang dialog dalam kepala. itu proses latihan yang cukup menyenangkan untukku.”

    “aku juga.”

    “dan menurutmu, bagaimana dialog ini berkembang?”

    “tidak buruk. lebih baik daripada rapatku jam tiga sore tadi.”

    abraham tersenyum. “kita belum bicara soal cinta.”

    “oh, topik berat. kamu yakin ingin masuk ke wilayah itu?”

    “kenapa tidak? toh kita sudah bicara tentang waktu dan harapan. cinta hanya bagian lain dari kekacauan itu.”

    sarah menghela napas pelan. “kadang cinta terasa seperti saat kamu membuat laporan keuangan. banyak angka, sedikit emosi, tapi dampaknya bisa jadi menghancurkan.”

    “dan kadang cinta seperti sisa kopi pagi yang tak sempat diminum. dingin, tapi tetap kamu minum karena kamu butuh sesuatu untuk tetap waras.”

    “dan kadang cinta seperti ini,” sarah menoleh padanya. “dua orang asing yang memilih duduk berdampingan, saling bicara, saling mendengarkan, tanpa perlu tahu akhir ceritanya.”

    abraham mengangguk. “karena akhir cerita itu kadang terlalu terasa dibesar-besarkan. kebersamaan sesaat lebih jujur.”

    bartender datang dan mengambil gelas mereka. “kalian pasangan paling tenang malam ini,” katanya sambil tersenyum. “rasanya seperti kalian sudah pernah duduk di bar yang sama… ratusan kali. kalian yakin baru saling bertemu malam ini?” tambah sang bartender sambil menyeringai dan pergi dari meja mereka.

    sarah dan abraham saling berpandangan. kali ini ada keheningan yang berbeda. bukan karena canggung, tapi karena mereka tahu bartender itu tidak sepenuhnya salah.

    mereka bangkit dari kursi. abraham meraih jaket dan mengenakannya, sarah merapikan blazernya yang sedikit kusut di bagian lengan.

    “jalan kaki?” tanya abraham, membuka pintu bar yang mengembuskan hawa malam yang lembap.

    “kamu masih ingat jalan pintas lewat belakang minimarket? kita bisa lewat sana.” jawab sarah.

    mereka melangkah berdampingan melewati gang kecil yang hanya cukup untuk dua orang dewasa tanpa bersenggolan.

    “jadi, kamu masih kesal soal charger yang aku ambil dari tas kerjamu pagi tadi?” tanya abraham, tiba-tiba.

    sarah mendesah pelan, tapi bukan karena kesal. “bukan kesal. aku cuma benci harus menjelaskan ke klien kenapa aku tidak bisa buka presentasi karena baterai laptopku habis.”

    “aku minta maaf. aku pikir kamu masih punya charger cadangan di kantor.”

    “aku pinjamkan ke nadya minggu lalu. kamu tahu itu.”

    “aku tahu,” jawab abraham, menunduk sebentar. “dan aku tetap ambil charger itu karena aku kesiangan dan laptopku juga mati total.”

    sarah menoleh padanya. “kenapa kamu tidak bilang dari awal?”

    “karena aku lebih suka membelikanmu margarita daripada mengaku salah.”

    mereka sama-sama tertawa kecil. langkah mereka melambat saat melewati warung rokok yang sudah setengah tutup. mereka belok ke gang kecil menuju rumah kos tua berlantai dua yang kini jadi hunian permanen mereka. pagar digeser pelan.

    di depan pintu, sarah berhenti sebentar.

    “malam ini cukup aneh,” katanya.
    “iya,” sahut abraham. “tapi kita butuh itu, kan?”

    “sesekali pura-pura tidak saling kenal. supaya bisa saling bicara seperti dua orang asing lagi.”

    abraham membuka pintu. lampu ruang tamu menyala otomatis. wangi teh basi dan hujan.

    “besok mau pura-pura apa lagi?” tanya sarah sambil melepas sepatunya.

    “mungkin pura-pura rebutan kamar mandi denganmu,” jawab abraham.
    sarah menahan senyum.
    pintu tertutup di belakang mereka.

    dan malam itu akan diingat sebagai sandiwara kecil yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
    seolah cinta lama bisa selalu diperbarui. bukan dengan janji, tapi dengan pura-pura yang dilakukan sungguh-sungguh.